Baca Selanjutnya Di: http://entry44.blogspot.com/2010/04/cara-membuat-link-berkedip-saat-kursor.html#ixzz1NzR3zzVK simfony jiwa

Translate

lagi nge-hop

Wednesday, July 13, 2011

MAKALAH LAYANAN INFORMASI

TUJUAN :

1. Memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan.
2. Menentukan arah serta tujuan atau rencana yang dikehendaki.
3. Membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun social budaya.
4. Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya.
5. Memberikan penghayatan tentang pekerjaan atau jabatan yang akan dimasukinya.
6. Membantu siswa mengumpulkan informasi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif.




LAYANAN INFORMASI

Secara umum, bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan demikian, layanan orientasi dan informasi itu pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman pelayanan bimbingan dan konseling. Lebih lanjut, layanan informasi akan dapat menunjang pelaksanaan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling lainnya dalam kaitan antara bahan-bahan orientasi dan informasi itu dengan permasalahan individu.

Di dalam masyarat tersedia banyak kesempatan-kesempatan pendidikan, kesempatan bekerja, kesempatan berhubungan antara satu sama lain. Tetapi tidak semua individu yang sebenarnya berkepentingan dengan kesempatan itu mengetahui dan memahaminya dengan baik kekurangtahuan dan kekurangpahaman itu membuat mereka sering membuat mereka kehilangan kesempatan. Salah pilih atau salah arah seperti; salah pilih sekolah, salah pilih jurusan, salah pilih pekerjaan dan tidak dapat meraih kesempatan yang baik sesuai dengan cita-cita bakat dan minat-minatnya. Sudah tentu kejadian-kejadian ini akan sangat merugikan, tidak hanya bagi individu yang bersangkutan tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan untuk menghindari kejadian-kejadian yang dapat merugikan itu mereka perlu diberkali dengan informasi yang cukup dan akurat.

Ada tiga alas an utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan. Pertama, membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun social budaya. Luayanan informasi berusaha merangsang individu untuk dapat secara kritis mempelajari berbagai informasi berkaitan dengan hayat hidup dan perkembangan. Kedua, memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya “kemana dia ingin pergi”. Sarat dasar menentukan arah hidup adalah apabila ia mengetahuan (informasi) yang harus dilakukan serta bagaimana bertindak secara kreatif dan dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada. Dengan kata lain, berdasarkan atas informasi yang diberikan individu itu diharapkan dapat membuat rencana-rencana dan keputusan tentang masa depannya serta bertanggung jawab atas rencana dan keputusan yang dibuatnya. Ketiga, setiap individu itu unik. Keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak yang berbeda disesuaikan dengan aspek-aspek kepribadian masing-masing individu.

Pertemuan antara keunikan dan variasi kondisi yang ada dilingkungan dan masyarakat yang lebih bagi individu yang bersangkutan maupun bagi masyarakat, yang semuanya itu sesuai dengan keinginan individu dan masyarakat. Dengan demikian akan terciptalah dinamika perkembangan individu dan masyarakat berdasarkan potensi positif yang ada pada diri individu dan masyarakat.

1. Jenis-Jenis Informasi
Jenis dan jumlah informasi tidak terbatas, namun khususnya dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling hanya ada tiga jenis informasi.
a. Informasi Pendidikan
Dalam bidang pendidikan banyak individu yang berstatus siswa atau calon siswa yang diharapkan pada kemungkinan timbulnya masalah atau kesulitan. Diantara masalah atau kesulitan tersebut berhubungan dengan:
1) Pemilihan program studi
2) Pemilihan sekolah..fakultas dan jurusannya
3) Penyesuaian diri dengan program studi
4) Penyesuaian diri terhadap suasana belajar
5) Putus sekolah

Norris, Hatch, Engelkes dan Winborm (1977) menekankan bahwa informasi pendidikan meliputi data keterangan yang sahih dan berguna tentang kesempatan dan syarat-syarat berkenaan dengan berbagai jenis pendidikan yang ada sekarang dan yang akan dating. Norris dkk, mengemukakan informasi pendidikan dan latihan perlu disebar luaskan kepada individu anggota masyarakat, khususnya bagi yang masih menduduki bangku pendidikan formal. Mereka perlu mengidentifikasi tingkat-tingkat informasi pendidikan khususnya dikaitkan dengan keperluan mereka yang baru saja memasuki sekolah. Jenis-jenis informasi pada setiap tingkat adalah sebagai berikut:
1) Pertama kali masuk sekolah

a) Jam-jam belajar
b) Disiplin dan peraturan sekolah lainnya
c) Kegiatan belajar dan kegiatan anak lainnya disekolah
d) Buku-buku atau pelajaran
e) Fasilitas, makanan, kesehatan, tempat bermain
f) Fasilitas transportasi (khususnya bagi mereka yang rumahnya jauh dari sekolah)
g) Peraturan tentang kunjungan orang tua ke sekolah.

2) Memasuki SLTP

a) Jadwal kegiatan sekolah
b) Mata pelajaran yang ada (berikut nama-nama gurunya)
c) Kegiatan ko-kurikuler
d) Fasilitas sumber belajar (perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja)
e) Sarana penunjang pelayanan kesehatan, BK)
f) Peraturan sekolah serta hak dan kewajiban siswa dan orang tua
g) Keadaan fisik sekolah
h) Prosedur penerimaan

3) Memasuki SLTA
a) Mata pelayaran dan pembidangannya
b) Jurusan atau program-program yang disediakan
c) Hubungan antara satu jurusan atau program dengan pekerjaan atau kegiatan di masyarakat yang lebih luas
d) Tersedianya latihan-latihan khusus
e) Jadwal kegiatan belajar dan latihan
f) Kegiatan ko dan ekstrakurikuler yang disediakan
g) Tuntutan perkembangan sikap dan kebiasaan belajar
h) Peraturan sekolah, hak dan kewajiban siswa, dll.

4) Memasuki Perguruan Tinggi
Secara garis besar informasi pendidikan yang diperlukan para (calon) lulusan SLTA adalah
a) Lembaga pendidikan yang menyajikan program-program yang lebih spesifik
b) Beasiswa dan berbagai kemungkinan tunjangan yang dapat diperoleh beserta syarat-syarat dan cara-cara melamarnya
c) Program-program latihan khusus
d) Kemungkinan lain yang dapat dimasuki oleh lulusan SLTA

b. Informasi Jabatan

Saat-saat transisi dari dunia pendidikan kedunia kerja sering merupakan masa yang sangat sulit bagi banyak orang muda. Untuk memungkinkan mereka dapat dengan mudah dan aman melalui saat-saat transisi mereka membutuhkan banyak pengetahuan dan penghayatan tentang pekerjaan atau jabatan yang akan dimasukinya itu semua dapat diperoleh melalui penyajian informasi jabatan.

Informasi jabatan atau pekerjaan yang baik sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut:
1) Struktur dan kelompok-kelompok jabatan atau pekerjaan utama
2) Uraian tugas masing-masing jabatan atau pekerjaan
3) Kualifikasi tenaga yang diperlakukan untuk masing-masing jabatan
4) Cara-cara atau prosedur penerimaan
5) Kondisi kerja
6) Kesempatan-kesempatan untuk pengembangan karier
7) Fasilitas penunjang untuk kesejahteraan pekerja; seperti kesehatan, olah raga dan rekreasi, kesempatan pendidikan bagi anak-anak dan sebagainya.

c. Informasi Sosial-Budaya
Manusia ditaksirkan berpusat-pusat, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Mereka dijadikan seperti itu bukan untuk saling bersaing dan bermusuhan, justru supaya saling mengenal, saling member dan menerima sehingga terciptanya kondisi yang dinamis, berkembang dan maju.
Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian informasi social-budaya yang meliputi:
1) Macam-macam suku bangsa
2) Adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan
3) Agama dan kepercayaan-kepercayaan
4) Bahasa terutama istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalah pahaman suku bangsa lainnya.
5) Potensi-potensi daerah
6) Kekhususan masyarakat atau daerah tertentu

2. Metode Layanan Informasi di Sekolah
Pemberian informasi kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara:

a. Ceramah
Ceramah merupakan metode pemberian informasi yang paling sederhana, mudah dan murah dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan hamper oleh setiap petugas bimbingan di sekolah. Disamping itu teknik ini juga tidak memerlukan prosedur dan biaya yang banyak. Penyajian informasi dapat dilakukan oleh kepala sekolah, konselor, guru-guru dan staf sekolah lainnya. Atau dapat juga dengan mendatangkan narasumber, misalnya dari lembaga-lembaga pendidikan. Departemen Tenaga Kerja badan-badan usaha dan lain-lain.

b. Diskusi
Penyajian informasi kepada siswa dapat dilakukan melalui diskusi. Diskusi semacam ini dapat diorganisasikan baik oleh siswa sendiri maupun oleh konselor atau guru. Apabila diskusi penyelenggaranya dilakukan oleh para siswa, maka perlu dibuat persiapan yang matang. Siswa hendaknya didorong untuk mendapatkan sebanyak mungkin bahan informasi yang akan disajikannya itu dari tangan yang lebih mengetahuinya. Konselor, guru bertindak sebagai pengamat dan sedapat-dapatnya memberikan pengarahan ataupun melengkapi informasi-informasi yang dibahas didalam diskusi.

c. Karyawisata
Karyawisata merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar-mengajar yang telah dikenal secara meluas baik oleh masyarakat sekolah maupun masyarakat umum. Dalam bidang bimbingan dan konseling, karyawan mempunyai dua sumbangan pokok. Pertama, membantu siswa belajar dengan menggunakan berbagai sumber yang ada dalam masyarakat yang dapat menunjang perkembangan mereka. Kedua, memungkinkan diperolehnya informasi yang dapat membantu pengembangan sikap-sikap terhadap pendidikan, pekerjaan dan berbagai masalah dalam masyarakat.
Penggunaan karyawisata untuk maksud membantu siswa mengumpulkan informasi dan pengembangkan sikap-sikap yang positif, menghendaki siswa berpartisipasi maupun pelaksanaan berbagai kegiatan terhadapap objek yang dikunjungi.

d. Buku Panduan
Buku-buku panduan dapat membantu siswa dalam mendapatkan banyak informasi yang berguna. Selain itu siswa juga dapat diajak membuat “buku karier” yang merupakan kumpulan berbagai artikel dan keterangan tentang pekerjaan atau pendidikan dari Koran-koran dan media cetak lainnya. Pembuatan-pembuatan buku-buku dibawah bimbingan langsung konselor. Versi lain dari “buku karier” itu menempelkan potongan atau guntingan rubric yang mengandung nilai informasi pendidikan jabatan dari Koran atau majalah pada “papan bimbingan”.

e. Konferensi Karier
Dalam konferensi karier, para narasumber dari kelompok-kelompok usaha, jawatan atau dinas lembaga pendidikan, dan lain-lain. Yang diundang mengadakan penyajian tentang berbagi aspek program pendidikan dan latihan atau pekerjaan yang diikuti oleh para siswa. Penyajian itu dilanjutkan dengan Tanya jawab dan diskusi yang secara langsung melibatkan siswa. Konferensi karier dilakukan dengan mengikuti salah satu pola dibawah ini yaitu.
Pola pertama, menyisihkan waktu selama satu jam atau lebih di luar hari-hari sekolah setiap semester selama waktu ini siswa dibagi atas beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mengadakan diskusi dengan narasumber yang ditentukan sebelumnya.

Pola kedua, menyediakan waktu sehari penuh atau lebih setiap semester untuk mengadakan konferensi. Pelaksanaan konferensi diawali dengan pertemuan umum, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kelompok. Dalam kesempatan ini siswa diberi kesempatan untuk mengikuti sejumlah pertemuan yang berbeda.
Pola ketiga, menyediakan jadwal konferensi dengan mengadakan pertemuan sekali setiap minggu. Siswa dapat mengikuti diskusi sesuai dengan bidang-bidang yang diminatinya ini tidak saja menguntungkan bagi siswa untuk berperan serta dalam berbagai administrasinya tidak terlalu merepotkan.
Pola keempat, mengadakan pecan bimbingan karier selama satu minggu terus menerus.

3. Layanan Informasi di Luar Sekolah
Layanan informasi juga banyak diperlukan oleh warga masyarakat diluar sekolah. Jenis-jenis informasi yang diperlukan itu pada dasarnya sejalan dengan informasi yang telah diuraikan yaitu informasi berkenaan dengan penghidupan yang lebih luas yaitu peri kehidupan beragama, berkeluarga, bekerja, bermasyarakat.
Cara-cara penyajian informasi kepada warga masyarakat sebagaimana cara-cara penyajian, orientasi, juga amat tergantung pada jenis informasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya.


PENUTUP

Dengan tulisan ini dibuat diharapkan siswa dapat memperoleh informasi dengan bakat dan minat yang mereka miliki dan juga diharapkan memperoleh karier yang mereka pilih. Sesuai dengan layanan informasi ini dapat mengarahkan siswa maupun masyarakat guna memperoleh dunia karier yang berguna untuk dirinya dan juga masa depannya sehingga siswa maupun masyarakat dapat mengembangkan bakat serta minat mereka.

MAKALAH PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANTU ANAK MENGEMBANGKAN DISIPLIN DIRI

A. PENDAHULUAN

Dalam maraknya pelanggaran nilai moral oleh remaja dapat dipandang sebagai perwujudan rendahnya disiplin diri. Pemicu utamanya diduga, adalah situasi dan kondisi keluarga yang negative. Disiplin diri merupakan aspek utama dan esensial pada pendidikan dalam keluarga yang diemban oleh orang tua karena mereka bertanggung jawab seccara kodrati dalam meletakkan dasar-dasar dan fondasinya kepada anak-anak.
Upaya orang tua atau pendidik akan tercapai jika anak telah mampu mengontrol perilakunya sendiri dengan acuan nilai-nilai moral yang terinternalisasi. Upaya ini secara asensial adalah penataan situasi dan kondisi yang dapat mengandung anak secara sukarela untuk menjeburkan diri dalam lautan nilai-nilai moral sehingga dapat dijadikan dasar untuk berperilaku yang berdisiplin diri. Jika anak mampu berdisiplin diri maka secara maknawi ia memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, mengakomodasi, dan mewarnai arus globalisasi.
Orang tua yang berwibawa dan kepercayaannya bergelora dalam diri anak-anak membuat upayanya diapresiasi oleh anak secara kata hati. Namun, orang tua yang tidak mampu menghayati dunia anak maka anak akan menjadi seorang yang tidak mempunyai kedisiplinan diri. Anak akan berperilaku yang akan berdampak pada perilaku dalam bermasyarakat yang akan menimbulkan dirinya kurang diharapkan dalam lingkungan social.
Anak dalam keluarga yang kurang harmonis atau orang tua yang bercerai akan menciptakan anak yang tidak berdisiplin baik pada dirinya maupun lingkungan sosialnya. Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam yaitu akan menimbulkan stress, tekanan dan juga dalam keluarga itu biasanya berawal dengan suatu konflik antara anggota keluarga. Bila konflik ini sampai titik kritis maka peristiwa perceraian itu berada diambang pintu. Peristiwa ini selalu mendatangkan ketidaktenangan berpikir dan ketegangan itu memakan waktu lama.
Pengaruh perceraian akan berdampak pada perkembangan anak. Mereka akan mengalami trauma, memiliki perasaan takut akan perubahan situasi keluarga dan merasa cemas karena ditinggalkan salah satu orang tuanya. Sehingga anak akan mencari ketenangan, entah ditetangga, sahabat atau teman sekolah. Perceraian itu setidaknya dapat menimbulkan kekacauan jiwa meski mungkin tidak terlalu jauh. Anak yang hidup dalam keluarga yang berantakan seperti itu bagaimana dia akan mendapatkan dorongan untuk mengembangkan disiplin dalam dirinya.
Orang tua yang mampu menghayati keadaan anaknya dan anak menghayati dunia orang tua maka terjadi pertemuan makna diantaranya. Masing-masing anggota keluarga secara bersama-sama dapat saling membantu untuk membuat pedoman diri dalam mengarahkan dirinya agar senantiasa untuk memiliki dan meningkatkan nilai-nilai moral untuk dipolakan dalam kehidupannya.
Peran orang tua guna mengembangkan disiplin dalam diri anak sangatlah berarti. Anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis senantiasa akan mendapatkan dorongan dalam menggali potensi dirinya untuk berperilaku yang positif dan mendisiplinkan dirinya. Jadi bagaimanakah peran orang tua guna membantu anak mengembangkan disiplin diri?













B. PERMASALAHAN

Disiplin diri pada anak sangatlah membutuhkan peran orang tua. Tanpa peran orang tua anak tidak akan bisa mengembangkan disiplin diri. Anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis dapat membantu anak dalam mengembangkan disiplin diri. Anak yang berasal dari keluarga yang kacau lebih banyak memiliki konsep dari negative. Lebih ektrim mengekspresikan perasaan, lebih penakut, dan lebih sulit mengontrol jasmaninya dari pada anak dari keluarga yang utuh. Perpecahan keluarga merupakan fenomena factual, yang menyebabkan terjadinya kenakalan anak karena tidak lengkapnya orang tua dan dihayati oleh anak sebagai “ketidakhadirannya”.
Bahaya yang akan timbul dari perpecahan keluarga anak akan kurang menyadari moral sebagai landasan keteraturan disiplin dirinya. Anak yang kurang memiliki nila-nilai moral sejak dini akan membuat orang tua kesulitan dalam membantu memiliki dan mengembangkan disiplin diri. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggung jawab kondrati yang sangat strategis posisinya dalam menghadirkan situasi dan kondisi yang bermuatan nilai moral untuk dihayati dan diapresiasi oleh anak-anak. Oleh sebab itu, sadar moral menjadi landasan disiplin diri yang harus dikembangkan.
Jadi, bagaimanakah posisi keluarga dalam mengembangkan disiplin diri, dan makna keluarga bagi anak serta upaya-upaya orang tua dalam membantu mengembangkan disiplin diri yang akan membentuk kepribadian anak yang dapat diterima dilingkungan social.









C. PEMBAHASAN

1. Posisi keluarga dalam menentukan tingkat disiplin diri anak.
Esensi pendidikan umum adalah proses menghadirkan situasi dan kondisi yang memungkinkan sebanyak mungkin subjek didik memperluas dan memperdalam makna-makna esensial untuk mencapai kehidupan yang manusiawi (Phenix: 1964: 10). Dalam hal ini, sangat diperlukan adanya kesenjangan atau kesadaran (niat) untuk mengundangnya melakukan tindakan belajar yang sesuai dengan tujuan.
Esensi pendidikan umum mencangkup dua dimensi yaitu dimensi pedagogis dan dimensi substantive. Dimensi pedagogis adalah proses menghadirkan situasi dan kondisi yang memungkinkan sebanyak mungkin subjek didik terundang untuk memperluas dan memperdalam dimensi subtantif. Sedangkan dimensi subtantif adalah makna-makna esensial. Makna-makna esensial menurut spectrum Phenix (1964: 6) adalah makna simbolik, makna empiric, makna estentik, makna sintetik, makna etik dan makna sinoptik (religi, filsafat, dan sejarah).
Religi merupakan perspektif sosiologis karena religi dipandang sebagai bagian dari makna sinoptik. Hal ini menunjukkan kelemahan yang sangat mendasar karena religi dalam pengertian agama merupakan prinsip dari segala prinsip dan asas dari segala asas (Moh. Shochib, 1994).
Pendidikan umum dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, keluarga merupakan salah satu lembaga yang mengemban tugas dan tanggung jawab dalam mencapai tujuan pendidikan umum yaitu mengupayakan subjek didik menjadi pribadi yang utuh dan terintegrasi. Maka tugas dan tanggung jawab keluarga (orang tua) adalah menciptakan situasi dan kondisi yang memuat iklim yang dapat dihayati anak-anak untuk memperdalam dan memperluas makna-makna esensial.
Pribadi yang memiliki dasar-dasar dan mampu mengembangkan disiplin diri, berarti memiliki keteraturan diri berdasarkan acuan nilai moral. Disiplin diri dibangun dari asimilasi oleh subjek didik sebagai dasar-dasar untuk mengarahkan perilakunya (Wayson, 1985: 227). Untuk mengupayakan hal ini orang tua dituntut untuk memiliki ketrampilan pedagogis dan proses pembelajaran pada tahapan tinggi.
Orang tua dapat merealisasikannya dengan cara menciptakan situasi dan konsdisi yang dihayati oleh anak-anak agar memiliki dasar-dasar dalam mengembangkan disiplin diri. Anak yang berdisiplin diri memiliki keteraturan tinggi berdasarkan nilai agama, nilai budaya, aturan-aturan pergaulan, pandangan hidup dan sikap hidup yang bermakna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Jadi tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya, dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungan alam dan makhluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral. Tujuan disiplin diri adalah mengupayakan pengembangan minat anak dan mengembangkan anak menjadi manusia yang baik, yang akan menjadi sahabat, tetangga dan warga Negara yang baik.
Keluarga merupakan lembaga yang paling penting dalam membentuk kepribadian anak. Karena produk utama disiplin diri adalah pendidikan keluarga secara esensial yang akan meletakkan dasar-dasar disiplin diri untuk dimiliki dan dikembangkan oleh anak. Posisi strategis yang dimiliki orang tua dalam membantu agar anak memiliki dan mengembang dasar-dasar disiplin diri berarti orang tua meletakkan dasar-dasar disiplin diri bagi anaknya. Jadi tugas dan kewajiban orang tua adalah membantu anak yang baru lahir yang memerlukan bantuan dirinya dan orang disekitarnya.
Dalam kaitan inilah terlihat betapa pentingnya posisi dan kedudukan orang tua dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri baik dari perspektif, teoritis maupun empirik.

2. Pentingnya disiplin diri bagi anak pada era global
Secara sekilas, kehidupan sehari-hari menampakkan fenomena yang biasa saja. Bila dikaji lebih mendalam, ternyata menghadirkan disparitas fenomena yang menyiratkan banyak persoalan dan memiliki lingkup yang sangat kompleks. Dalam era global dewasa ini, kompleksitas masalah kehidupan mengalami perubahan yang sangat cepat. Hal ini memberikan kesan bahwa kehidupan sehari-hari semakin menggalau dan beraneka. Jika dalam era globalisasi tidak ada upaya untuk mengantisipasi, mengakomodasi, dan mewarnaianya. Era global secara maknawi mengundang anak-anak untuk mengaktifkan diri dengan nilai-nilai moral untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri hal tersebut menunjukkan perlu adanya posisi dan tanggung jawab dari orang tua.
Disiplin diri merupakan substansi esensial di era global untuk dimiliki dan dikembangkan oleh anak karena dengannya ia dapat memiliki control internal untuk berperilaku yang senantiasa taat moral. Dengan ini, anak tidak hanyut oleh arus globalisasi, tetapi sebaliknya ia mampu mewarnai dan mengakomodasi.
Bantuan orang tua dalam meletakkan dasar-dasar dan mengembangkan disiplin diri anak adalah menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong anak memiliki dasar-dasar disiplin diri anak dan dalam pengembangannya melibatkan dua subjek yaitu: (1) orang tua sebagai pendidik, dan (2) anak sebagai si terdidik. Bantuan orang tua kepada anak untuk memiliki dasar-dasar disiplin diri dan mengembangkannya merupakan suatu pekerjaan dari pendidik. Dalam hal ini pendidik dapat mempengaruhi atau “memasukkan sesuatu” yang bersifat psikologis kepada si terdidik agar mau bekerja sama dalam pencapaian tujuan sehingga akhirnya dapat mengerjakan sendiri.

3. Berapa konsep kunci tentang upaya orang tua dalam membantu anak memiliki dan mengembangkan disiplin diri.

a. Pertemuan makna antara orang tua dengan anak-anak.
Untuk mengamati secara cermat, mendalam dan menyeluruh upaya orang tua dalam membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin dirinya, perlu diarahkan pada empat hal, yaitu:
1) Pribadi orang tua yang kongkret
2) Pribadi anak yang kongkret
3) Situasi lugas dalam kehidupan keluarga
4) Arah tindakan untuk anak agar memiliki dasar-dasar disiplin diri dan mengembangkannya.

Keempat fenomena ini dapat dijadikan instrument untuk mengungkapkan:
1) Pola pertemuan yaitu dapat tidaknya cara dan kualitas pertemuan antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai si terdidik yang interaksinya bersifat nonsubjek.
2) Kualitas penghayatan dan komunikasi anak terhadap orang tuanya baik sebagai ibu atau ayah mampu sebagai pendidik.

Pola pertemuan antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai si terdidik dengan maksud bahwa orang tua mengarahkan anaknya sesuai dengan tujuannya: yaitu membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.

b. Pola asuh orang tua dalam membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.
1) Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua dalam membantu anak untuk mengembangkan disiplin diri adalah upaya orang tua yang diaktualisasikan terhadap penataan:
• Lingkungan fisik
• Lingkungan sosial internal dan eksternal
• Pendidikan internal dan eksternal
• Dialog dengan anaka-anaknya
• Suasana psikologis
• Sosiobudaya
• Perilaku yang ditampilkan pada saat terjadinya “pertemuan” dengan anak-anak
• Control terhadap perilaku anak-anak
• Menentukan nilai-nilai moral sebagai dasar berperilaku dan yang diupayakan kepada anak-anak

2) Anak berdisiplin diri
Anak berdisiplin diri dimaksudkan sebagai keteraturan perilaku berdasarkan nilai moral yang telah mempribadi dalam dirinya tanpa tekanan atau dorongan dari faktor eksternal.

3) Keterkaitan pola asuh orang tua dengan anak berdisiplin
Keterkaitan pola asuh orang tua dengan anak berdisiplin diri dimaksudkan sebagai upaya orang tua dengan anak berdisiplin diri dimaksudkan sebagai upaya orang tua dalam “meletakkan” dasar-dasar disiplin diri kepada anak dan membantu mengembangkannya sehingga anak memiliki disiplin diri.

4) Dinamika anak memiliki disiplin diri
Dinamika anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri melibatkan tiga proses yang masing-masing bersifat dialektik, yaitu pengenalan dan pemahaman nilai-nilai moral, pengendapan nilai-nilai moral dan pembribadian nilai-nilai moral.

Proses dialektik yang dimaksud adalah bahwa pada setiap proses yang terjadi akan senantiasa melakukan penolakan dan atau penerimaan anak terhadap nilai baru karena adanya konflik atau benturan dengan nilai lama yang telah mengendap dalam dirinya.




4. Makna keluarga bagi anak
Keutuhan orang tua (ayah dan ibu) dalam sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.
Keluarga merupakan kesatuarahan dan kesatujuan atau keutuhan dalam mengupayakan anak untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri kepercayaan terhadap kedua orang tuanya merupakan unsure asensial dalam membantu anak untuk membangun dan mengembangkan disiplin diri.
Dalam mengupayakan kepemilikan dan pengembangkan dasar-dasar disiplin diri, keutuhan sebuah keluarga sangat diperlukan jadi upaya orang tua untuk membantu anak menginternalisasi nilai-nilai moral dirasakan sebagai bantuan anak menginternalisasi nilai-nilai moral, dirasakan sebagai bantuan untuk dikenali dan dipahami, diendapkan dan dipribadikakan dalam diri anak sikap saling membantu diantaranya anggota keluarga dalam mengembangkan diri diperlukan untuk kesamaan arah dan tujuan dalam melakukan tindakan yang berdasarkan nilai-nilai moral yang telah disepakati bersama.

5. Proses pembentukan disiplin diri dalam diri anak
Disiplin diri anak merupakan produk disiplin kepemilikan disiplin memerlukan proses belajar. Pada awal proses belajr perlu ada upaya orang tua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
a. Melatih
b. Membiasakan diri sesuai dengan nilai-nilai berdasarkan acuan moral.
c. Perlu adanya control control orang tua untuk mengembangkannya.
Ketiga upaya itu dinamakan control ekstrenal yang berisonasi demokrasi dan keterbukaan ini memudahkan anak. Untuk menginternalisasi nilai-nilai moral yang dapat menciptakan dunia kebersamaan yang menjadi syarat esensial terjadinya pengahayatan bersama antara orang tua dan anak. Disiplin diri merupakan perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan karena dikontrol oleh nilai-nilai moral yang terinternalisasi.
Control diri merupakan substansi asesmen diri, perekam diri determinasi diri terhadap penguatan dan administrasi diri terhadap penguat (Gnagey, 1981:117).
- Asesmen diri dapat dimiliki anak jika orang tua mampu membantu anak menyadari dan menghayati perilaku-perilakunya.
- Perekam diri dapat dimiliki oleh anak jika orang tua mampu membantu mereka untuk melakukan identifikasi sebab-sebab terjadinya penyimpangan perilaku.
Penempatan nilai-nilai moral sebagai acuan utama bagi anak untuk memiliki control diri secara internal akan senantiasa menunjukkan diri anak pada nilai-nilai moral. Sehubungan dengan itu, upaya orang tua dalam mendisiplinkan diri anak pada dasarnya mengupayakan anak-anaknya untuk berperilaku yang sadar nilai-nilai moral.
Upaya yang dilakukan dalam membangtu anak mutlak didahulukan oleh tampilnya.
Pertama, perilaku yang patut dicontoh.
Kedua, kesadaran diri juga harus ditularkan pada anak-anaknya dengan
dorongan mereka agar berperilaku kesehariannya taat kepada
nilai-nilai moral.
Ketiga, komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan anak-
anaknya.
Keempat, upaya untuk menyuburkan ketaatan anak terhadap nilai-nilai
Moral dapat diaktualisasikan dalam menata lingkungan fisik
yang disebut moment fisik.
Kelima, penataan lingkungan fisik yang melibatkan anak-anak dan
berangkat dari dunianya akan menjadikan anak semakin kokoh
dalam kepemilikan terhadap nilai-nilai moral dan semakin
terundang untuk meningkatkannya.
Keenam, penataan lingkungan social dapat menghadirkan situasi
kebersamaan antara anak-anak dengan orang tua.
Ketujuh, penataan lingkungan pendidikan untuk mempelajari nilai-nilai
moral.
Kedelapan, penataan suasana psikologis semakin kokoh.

6. Upaya orang tua yang mampu membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.
a. Penataan lingkungan fisik
Penataan lingkungan fisik pada keluarga membuktikan adanya upaya agar anak-anak memiliki nilai moral, dasar social, ilmiah, ekonomi, kebersihan dan keteraturan dan demokrasi. Upaya penataan lingkungan fisik telah diapresiasi sebagai lahan dialog oleh anak-anaknya.

b. Penataan lingkungan sosial
1) Penataan lingkungan sosial internal
Bertujuan menyingkap nilai-nilai yang diapresiasi anak dalam menerima bantuan orang tua untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.
2) Penataan lingkungan sosial eksternal
Bertujuan menyingkap nilai-nilai yang diapresiasi anak dalam menerima bantuan orang tua agar mereka memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.

c. Penataan lingkungan pendidikan
1) Penataan lingkungan pendidikan internal
Bertujuan untuk menyingkap nilai-nilai yang diapresiasikan anak dalam menerima bantuan orang tua untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.
2) Penataan lingkungan pendidikan eksternal keluarga
Adanya motivasi anak disebabkan oleh pancaran kewibawaan dan kepercayaan orang tua yang benar-benar mereka rasakan, terciptanya komunikasi dialogis antara orang tua dan anak, serta suasana demokratis di dalam keluarga. Penghayatan dan pengapresiasian anak terhadap motivasi dan dorongan orang tua untuk memiliki dan mengembangkan nilai moral dasar tampak dalam perilaku kesehariannya.

d. Dialog-dialog keluarga
Diupayakan telah berhasil mengemas pesan-pesan nilai moral yang akan dihayatkan dan diapresiasikan kepada anak-anak. Keberhasilan ini sangat didukung oleh kewibawaan dan kepercayaan diri yang terpancar keperilaku, keakraban, kedekatan, dan kebersamaan sebagai demokrasi. Peringatan-peringatan terhadap anak-anak disampaikan dengan bijak, asih dan asuh sehingga dapat penuh sadar dan kepercayaan diri, anak akan mematuhinya.

e. Penataan suasana psikologis keluarga
Menyingkap adanya kondisi yang dapat mengundang dan mendorong anak untuk memiliki dan mengembangkan nilai moral dasar. Kemampuan orang tua menciptakan suasana keluarga yang sarat dengan rasa kebersamaan, keakraban, kedekatan, komunikasi sambung rasa dengan anak, pemberian teladan-teladan sikap terbuka.

f. Penataan sosiobudaya keluarga
Penataan sosiobudaya keluarga telah menyingkap upaya untuk membudayakan kaidah-kaidah nilai moral dasar, social, ilmiah, ekonomi, kebersihan dan demokrasi dalam kehidupan anak. Kaedah-kaedah tersebut diapresiasikan oleh kehidupan anak untuk diserap dan dilaporkan dalam kehidupannya.

g. Perilaku orang tua saat terjadinya pertemuan dengan anak
Pertemuan orang tua dengan anak senantiasa didasari oleh tampilnya nilai-nilai moral dasar yang mengupayakan untuk tampil dalam pertemuan dengan anak yang mampu membangun kepercayaan dan kewibawaan atas diri anak.

h. Kontrol orang tua terhadap perilaku anak
Perilaku anak yang memperoleh prioritas control orang tua adalah perilaku-perilaku dalam merealisasikan nilai-nilai moral dan disamping nilai-nilai moral lainnya. Kontrol yang diberikan dengan penuh asih, asuh dan kebijakan menyebabkan rasa keterpaksaan yang dialami anak pada awalnya lambat laun berkembang menjadi kesadaran diri.

i. Nilai moral yang menjadi dasar berperilaku orang tua dan yang diupayakan kepada anak
Untuk memilih dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri adalah nilai moral dasar (agama). Penempatan dan pengupayaan nilai moral dasar sebagai dasar pijakan berperilaku sebagai landasannya adalah nilai dasar (agama) yang dapat menjadi benteng kokoh untuk mencegah anak-anaknya melakukan penyimpangan-penyimpangan perilaku.













D. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Berdasarkan uraian-uraian tersebut dapat dirumuskan berbagai kesimpulan:
1. Signifikasi upaya orang tua dengan tingkatan apresiasi anak berdasarkan kata hati. Nalar dan naluri terjadi karena pasang surutnya kewibawaan dan kepercayaan orang tua dalam diri anak. Kewibawaan dan kepercayaan terhadap orang tua yang bergelora dalam diri anak-anak dapat menggetarkan dawai kata hatinya.
2. Kewibawaan dan kepercayaan orang tua membuat diapresiasi anak secara kata hati yang senantiasa dihayati dan dimaknai sebagai bantuan, bimbingan dan arahan untuk dirinya dalam memiliki nilai-nilai moral sebagai dasar berperilaku yang berdisiplin diri. Orang tua dapat mencerminkan dirinya present in absent dalam diri anak jika dia membangun keteladanan diri, konsistensi dan kesatuan perilaku, rasa kebersamaan dalam merealisasikan nilai-nilai moral, penciptaan suasana terbuka dan komunikasi dialogis, kemesraan hubungan orang tua dengan anak, emenerjemahkan dan membudayakan nilai-nilai moral yang menjadi pola hidup keluarga, dan adanya peraturan yang dibuat dan ditaati bersama oleh semua anggota keluarga.

LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN BK MASALAH YANG TIMBUL PADA ANAK AKIBAT MASALAH SOSIAL

MASALAH YANG TIMBUL PADA ANAK AKIBAT MASALAH SOSIAL

A. LATAR BELAKANG
Sekarang ini dunia dengan masalah-masalahnya tumbuh lebih kompleks. Demikian juga dengan Indonesia sebagai Negara berkembang, yang terus-menerus terbelit utang Luar Negeri, dan sampai sekarang belum mampu keluar dari kesulitan ekonomi – keadaan tersebut sangat berdampak pada semua bidang kehidupan, terutama bidang pendidikan. Sebagai rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan dan ini sangat berpengaruh pada perkembangan kehidupan anak-anak. Mereka nantinya diharapkan menjadi penerus bangsa.
Sekian banyak masalah sosial mengenai kesejahteraan anak, seperti perlakuan kejam terhadap anak; meningkatkan kehamilan remaja; keluarga dengan orang tua tunggal; tingginya angka perceraian pada keluarga yang mempunyai anak; efek kekerasan yang ditampilkan di televisi; kebutuhan akan tempat penitipan anak yang memadai; kurangnya kesempatan pendidikan untuk sekian banyak anak dari keluarga yang kurang mampu; diskriminasi rasial; berubahnya nilai moral; penyalahgunaan obat terlarang di kalangan anak-anak remaja; pengangguran karena sulitnya lapangan kerja; kemiskinan sehingga banyak anak yang putus sekolah.
Di sisi lain masih terjadi kekacauan domestic karena politik atau SARA, lemahnya hokum, korupsi, bencana alam (banjir, kekeringan, kebakaran hutan) semua ini berimbas pada anak-anak yang dilahirkan pada abad 21. Anak-anak yang kelaparan, kurang gii, diperkosa, dijual untuk dijadikan pelacur, disiksa oleh orang dewasa atau orang tua, diabaikan atau ditelantarkan menjadi anak jalanan adalah contoh dari akibat belum beresnya Negara ini, terutama dalam segi ekonomi.
Sebagai seorang konselor tidak bisa tinggal diam dan sangat terusik melihat keadaan yang tidak membahagiakan ini, terutama bagi anak-anak. Melihat keadaan ini saya terpanggil untuk melakukan sumbangan penyuluhan yang kiranya dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi kelangsungan hidup anak bangsa. Dalam PP RI Tahun 2010 tentang Perlindungan anak Bagian empat berkaitan dengan bab Pemulihan pasal 27 Huruf d menyatakan:
“Yang dimaksud dengan “bimbingan kemasyarakatan” dalam ketentuan ini adalah suatu proses dimana anak bekerjasama untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan kesejahteraan sosial, merencanakan cara-cara memenuhi kebutuhan tersebut, serta memobilisasi sumber-sumber yang ada di dalam masyarakat dengan berlandaskan pada prinsip partisipasi sosial.

B. TUJUAN PENYULUHAN
Dalam penyuluhan ini dimaksudkan agar:
1. Memberikan informasi kepada ibu/ bapak dari si orang tua anak melatih orang tua mendidik anak mereka untuk tidak memberi tanggapan yang memicu kemarahan.
2. Melahirkan sikap baru dari persepsi orang tua terhadap keadaan zaman dan keadaan ekonominya terhadap cara mendidik anak.
3. Membuka jalan baru kea arah hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.

C. SASARAN PENYULUHAN
Sasaran dalam penyuluhan ini difokuskan kepada para orang tua yang mempunyai anak, dan tidak menutup kemungkinan bisa juga untuk para anak itu sendiri. Hal ini dilakukan sebagai informasi kepada mereka agar menambah wawasan dan sikap baru dalam persepsinya mendidik anak.

D. ISI MATERI PENYULUHAN
1. Sejarah Masa Kanak-Kanak Selama Berabad-Abad
 Tahun 1979: Watson & Lindgren menunjukkan bahwa pada zaman Romawi dan Yunani, dalam memandang anak sedikit cerah jika dibandingkan dengan abad pertengahan. Anak-anak, terutama dalam keluarga menengah dan kelas atas, disetujui secara terbuka hak-hak dan tanggung jawab khusus. Mereka menilai diri mereka sendiri, sebagai anggota kelompok keluarga dan sebagai Negara yang akan datang.
 Abad pertengahan: anak dianggap sebagai miniature orang dewasa, diberi pakaian orang dewasa dan diwajibkan untuk bekerja pada abad-abad awal. Dalam hal ini, perempuan dianggap budak dan diberi pakaian orang dewasa perempuan; tidak ke sekolah serta dikawinkan sekitar umur 10 sampai 12 tahun, selalu dengan laki-laki yang lebih tua.
 Abad 15 & 16- Zaman Renaissance: orang bertambah kemampuannya dalam membaca dan menulis.
 Abad 17 – tahun 1632-1704: John Locke tidak setuju dengan pendapat bahwa anak adalah miniature (orang dewasa yang kecil) yang secara sederhana tumbuh. Dia percaya bahwa anak membutuhkan pemeliharaan khusus, membiarkan mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka, dan hanya boleh dibatasi ketika diperlukan. Meskipun anak bekerja kontrak untuk waktu tertentu, atau memperkerjakan mereka untuk keluarga-keluarga lain seperti pada umumnya dipraktikkan. Locke menasehati pra orang tua untuk menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka, dan mempengaruhi mereka dengan contoh-contoh yang baik.
 Tahun 1712-1778: Jean Jacques Rousseau juga menolak ide dosa asal dan perbedaan yang wajar pada masa kanak-kanak mengekspresikan dengan kuat kepercayaan bahwa sejak dilahirkan sudah ada bagian yang baik pada diri anak-anak, dan tidak setuju terhadap pendapat Locke bahwa orang tua seharusnya mencintai dan dekat dengan anak-anak
 Tahun 1746-1827: Johann Henrich Pestalozzi mengobservasi dari anak-anaknya sendiri yang berumur 4 tahun, dibentuk atas dasar kepercayaan bahwa ibu adalah guru pertama dan paling signifikan bagi anak.
 Abad 18 dan 19: orang tua harus “mematahkan keinginan” anak-anak mereka agar melatih mereka untuk diterima secara sosial. Perbedaan dalam abad 18 dan 19: anak yang kaya dibimbing oleh guru belajar kegemarannya sedangkan anak miskin bekerja sebagai budak di lading-ladang, pabrik-pabrik, tambang-tambang, pertanian dan belajar menunggu perintah tuannya di zaman Vitorian dan di Pensylvania.
 Mendekati abad 21: banyak anak-anak tidak dilindungi dari kemiskinan, eksploitasi, dan penyiksaan.
2. Tahap-Tahap Perkembangan Masa Kanak-Kanak dapat diamati melalui perkembangan berikut:
 Perkembangan motorik(gerak dari tubuh)
 Perkembangan kognitif (kemampuan untuk berpikir dan memahami dunia sekeliling)
 Perkembangan bahasa
 Perkembangan emosional
 Perkembangan sosial
Contoh peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan motor dari umur 2 tahun-6 tahun:
a. Usia 2 tahun: memakai celana, memegang gelas, menumpuk 6-7 balok, menendang bola besar, berlari.
b. Usia 3 tahun: memakai sepatu, menuang air dari poci, menumpuk 9 balok, bersepeda, melompat, menggambar lingkaran.
c. Usia 4 tahun: berpakaian sendiri, menggunakan gunting, menggambar pola, melempar bola, meloncat dengan satu kaki.
d. Usia 5 tahun: mengancingkan baju, menyalin surat dan pola, berjalan sepanjang garis, melempar dengan benar, melompat.
e. Usia 6 tahun: bersepeda, menulis dan menggambar, meloncat dengan tali, menangkap bola, memperagakan suatu aksi.
Tahap-tahap perkembangan psikososial yang diterapkan pada anak-anak dan remaja menurut Erik Erikson:
a. Lahir sampai 1 tahun: percaya bahwa dunia bersahabat, mantap dan aman.
b. Umur 2 – 3 tahun: dapat mengontrol dirinya sendiri dan orang-orang lain. Bangga akan hal-hal yang dikerjakan, suka membuat pilihan-pilihan.
c. Umur 4 – 5 tahun: aktif dan tegas dalam mengeksplorasi dunia melalui imajinasi dan pengalaman.
d. Umur 6 -12 tahun: mengembangkan bakat dan kemampuan, mencapai kompetensi; menemukan tempat di dunia.
e. Umur 12-18 tahun: mengembangkan identitas, menerima diri sendiri, dan mandiri.
3. Masalah-Masalah Perkembangan pada Umumnya
a. Ketergantungan dan kasih sayang
 Anak yang selalu tergantung: akibat dari kasih sayang yang tidak aman, kurang percaya diri akan kemampuannya.
 Anak yang kurang tergantung: sulitnya bersosialisasi, karena tidak belajar untuk menyetujui pendapat orang lain.
b. Ketakutan yang Berhubungan dengan Respons-Respons
 Rasa malu: biasanya ditandai oleh penarikan diri dari hubungan dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa.
 Rasa canggung: reaksi takut kepada manusia atau orang asing, bukan pada objek atau situasi. Hal ini lebih disebabkan oleh keragu-raguan tentang penilaian orang lain terhadap perilaku atau diri seseorang.
 Rasa khawatir: menurut Hurlock (1978) khayalan ketakutan atau gelisah tanpa sadar. Biasanya timbul karena membayangkan situasi berbahaya yang mungkin akan meningkat. Intensitas munculnya rasa ini selain dipengaruhi umur juga pengalaman yang signifikan dalam kehidupan anak. Contoh: “Saya takut kalau saya melakukan sesuatu yang salah…”.
 Rasa cemas: timbul karena adanya suatu penyebab, suatu pembangkit rasa takut yang berada di luar dirinya. Biasanya diekspresikan seperti depresi, sifat mudah marah, suasana hati yang berubah-ubah. Anak yang cemas mungkin akan mengalami kegelisahan, mengganggu tidur, dan terus menerus makan-makanan kecil.
c. Kemarahan yang berhubungan dengan respon
 Agresi: tindakan berlebihan dengan tujuan 1) merusak/ mengakibatkan luka 2) memperoleh/ mendapatkan sesuatu. Sikap agresi didapatkan pada anak yang orang tuanya bersikap terlalu memanjakan dan melindungi anak, atau penolakan orang tua, dan terlalu berkuasa. Bisa juga karena pertentangan atau pertengkaran yang terus menerus.
 Rendah diri atau patuh: mempunyai kecenderungan untuk menyetujui orang lain tanpa komentar atau lari dari situasi frustasi. Anak tersebut juga tergantung dengan orang dewasa untuk mendapatkan perhatian dan kasih saying, selanjutnya mengambil jarak terhadap teman sebayanya.
 Cemburu dan persaingan. Cemburu/ iri hati: suatu ketakutan karena dihalangi mencoba untuk untuk dicintai. Persaingan: menunjukkan bahwa seseorang ada dalam kompetensi dengan orang lain untuk pertama kali – untuk menang atau untuk memiliki hanya satu yang dapat diperoleh.
4. Kondisi yang menyebabkan perubahan hubungan orang tua – anak
a. Perubahan pada anak
b. Perubahan sikap orang tua
c. Konsep orang tua tentang anak yang “baik”
d. Konsep kekanak-kanakan tentang orang tua yang “baik”
e. Orang tua kesayangan
f. Lebih menyukai orang luar
5. Pedoman dalam Memberikan Penyerahan Kepada yang Ahli, dengan mencermati pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Apakah tingkah laku anak sesuai dengan umur dan tingkat perkembangan?
b. Apakah tingkah laku anak tepat sesuai dengan lingkungan?
c. Bagaimana seorang anak yang sering menunjukkan masalah tingkah laku?
d. Berapa lamanya masalah?
e. Apakah tingkah laku anak tiba-tiba berubah?
f. Apakah tingkah laku bertentangan dengan fungsi anak secara keseluruhan?


6. Saran Penanganan Untuk Para Orang Tua
a. Semua anak berbeda. Menyenangkan dalam perbedaan mereka dan berdiam pada ketakutan-ketakutan mereka.
b. Ketika anak berjalan pada jalan perkembangan, mereka akan menemui dan mengatasi rintangannya. Di sana terdapat semangat untuk mereka.
c. Menghargai perasaan dan pikiran anak-anak dan orang tua mereka.
d. Mencoba mendengarkan emosi yang telah diungkapkan anak. Mereka sedang mencoba menceritakan sesuatu yang menurutnya penting kepada anda.
e. Tidak ada orang sempurna. Jika anda mempunyai keragu-raguan tentang ini, ambilah kartu laporan tentang anak
f. Cobalah menjadi pribadi yang baik yang anda inginkan untuk berbicara ketika anada menjadi anak.
g. Ketika sedang bersama anak-anak, anda benar-benar ada di sana bukan sedang memikirkan daftar tentang apa yang harus dibeli pada akhir pekan.
h. Jika anak-anak tahu bahwa mereka dipercaya, didengar kata-katanya, dipahami, disayangi dan dihargai – mereka terbuka terhadap prinsip-prinsip disiplin yang efektif, kita membantu anak-anak tumbuh dalam kedewasaan dan pengertian.
i. Tingkatkan harga diri anak dengan penerimaan dan dukungan anda.
j. Doronglah anak-anak untuk menjelajah dunianya. Orang tua mempunyai hak untuk mendirikan pagar dan batas-batas bagi anak-anak, namun dalam pagar itu biarlah anak-anak menjelajah dengan bebas.

E. METODE PENYULUHAN
Dalam penyuluhan ini menggunakan metode ceramah, tujuannya agar terjadi perubahan atau timbulnya pengertian dan kesadaran dari pesan-pesan yang disampaikan melaui penyuluhan bimbingan konseling berikut secara kelompok. Dan dalam hal ini pula, terdapat diskusi Tanya jawab antara pembicara dengan peserta penyuluhan tujuannya adalah untuk menimbulkan perubahan sikap pada sasaran, hal ini berarti sasaran diharapkan mampu menimbang – nimbang mana yang baik dan buruk, mana yang disukai dan yang tidak, atau dalam tahap evaluasi.

F. JADWAL PENYULUHAN
Jadwal penyuluhan dilaksanakan pada jam 13.00 WIB sampai selesai. Dilakukan selama 1 hari tepatnya pada hari Minggu. Bertempat di Balai Desa setempat.

G. SUMBER BACAAN
 Djiwandono, Sri Esti Wuryani. Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. 2010

KASUS : ANAK YANG TIDAK DIAKUI ORANG TUA


RUBRIK BK

KASUS : ANAK YANG TIDAK DIAKUI ORANG TUA (kisah nyata dari Hn bulan Oktober, 1989)
Seorang pria bernama Hn umur 28 tahun,  telah menamatkan pendidikan universitas 2 tahun lalu. Sekarang, saya bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dalam keluarga, saya adalah anak terkecil (bungsu) dari tujuh bersaudara. Jarak usia saya dengan kakak wanita di atas saya  cukup jauh, yaitu 12 tahun. Kedua orangtua saya  sudah meninggal.
Hubungan kami kakak beradik sangat erat, dan dengan ayah ibu almarhum dulu juga baik sekali. Pokoknya, keluarga kami – menurut penilaian paman, bibi maupun teman-teman – adalah keluarga ideal.
Namun, belakangan ini saya menghadapi masalah  yang sangat mengganggu ketenangan hidup, bahkan mempengaruhi prestasi kerja. Awalnya adalah ketika saya menghadiri pertemuan keluarga dalam rangka merayakan Idul Fitri yang lalu. Ketika itu, kakak saya tertua menyampaikan informasi yang sangat mengejutkan. Sebagai anak tertua, rupanya ia bertindak sebagai executor wasiat orangtua, menunjukkan bahwa sebenarnya saya ini bukan keturunan langsung ayah dan ibu almarhum. Walaupun dalam surat wasiat itu perlakuan yang saya terima tak berbeda dengan kakak-kakak yang lain. Artinya, saya diperlakukan sebagai anak sendiri.
Semenjak saya mengetahui hal itu, saya menjadi gelisah, tak bisa tidur, ada rasa marah namun kepada siapa saya marah, saya sendiri bingung. Saya merasa, semua kakak saya agak menghindar untuk menjawab siapa sesungguhnya orangtua saya. Menurut mereka, saya tak perlu mengetahui siapa orangtua kandung saya karena mereka tak bertanggung jawab sebagai orang tua atau orang tua kandung tidak mengakui keberadaan saya ketika dulu. Namun, yang terpenting saya telah mendapatkan kasih saying dari bapak dan ibu almarhum.
Sekarang saya merasakan penyesalan yang tak terhingga, mengapa tidak dapat berbuat lebih baik terhadap ayah dan ibu almarhum semasa beliau hidup. Saya penasaran terhadap orangtua sendiri, di mana mereka berada dan mengapa sampai saya sampai berada diasuhan orangtua angkat. Apa yang sebaiknya saya lakukan?
Jawaban Konselor:
Saudara Hn, saya dapat memahami perasaan anda dan ikut bersimpati terhadap apa yang anda alami. Namun, saya memerlukan informasi tambahan untuk bisa mengerti permasalahan anda, dan nantinya dapat memberikan alternatif jalan keluarnya.
Untuk itu, saya akan memberikan sedikit latar belakang fungsi keluarga dalam pembentukan identitas pribadi seseorang. Keluarga pada dasarnya merupakan wahana untuk proses sosialisasi anak-anak mereka, terutama dalam pemupukan nilai-nilai hidup, kemampuan bergaul dalam pembentukan kepribadian individu untuk mencapai kedewasaan.
Dari kacamata inilah saya ingin mendekati permasalahan anda. Ayah dan ibu almarhum, menurut saya, sudah berhasil menjalankan fungsi ini sehingga anda maupun kakak-kakak anda menjadi manusia dewasa yang mampu menempuh kehidupan ini secara mandiri. Seorang pria dewasa seperti anda, dalam keadaan normal, biasanya telah memiliki citra diri yang relative mapan.
Melihat bahwa anda tidak mempunyai masalah dalam bergaul maka sebenarnya dapat saya katakana, anda telah memiliki kematangan pribadi. Ini point yang penting. Nah, siapa pun yang memberikan kesempatan ini kepada anda – entah orang tua sendiri atau orang lain – sebenarnya tak menjadi masalah lagi. Mungkin dari kenyataan ini, kakak-kakak anda menganggap tak perlu dipersoalkan lagi mengenai orangtua alamiah anda (natural parents).
Sebaliknya, memang menjadi hak seseorang untuk mengetahui orangtua alamiahnya. Menghadapi kenyataan ini, cobalah anda renungkan langkah-langkah berikut ini:
Penyesalan tidak berbuat lebih baik pada ayah ibu almarhum tidak perlu anda pikirkan terus menerus karena keberhasilan pendidikan dan keberhasilan hidup mandiri merupakan kebahagiaan yang tak ternilai bagi beliau-beliau seandainya mereka masih hidup.
Anda pribadi berusahalah agar menjadi orang yang berguna bagi lingkungan, sesuai cita-cita orangtua pada umumnya.
Setiap orangtua dapat saja berbuat salah dalam kehidupannya, termasuk orangtua kandung anda. Bebesarhatilah untuk memaafkan mereka.
Bila anda tetap ingin mengetahui identitas orangtua kandung, tunggulah saat yang tepat dan berbicaralah dengan kakak tertua untuk memperoleh informasi yang benar.
Jangan bingung dan cobalah lakukan langkah-langkah tadi.

KATA-KATA MUTIARA DAN RUBRIK BERKAITAN DENGAN BK

KATA-KATA MUTIARA BERKAITAN DENGAN BK
-MOTIVASI HIDUP-


1. Ia membuat lingkaran yang tidak menyertakan diriku. Tapi aku dan rasa cinta memiliki keteguhan untuk menang : Kami membuat lingkaran yang lebih besar untuk menyertakan dirinya. (Tak Dikenal)
2. Jika selalu memikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk orang lain, maka karakter kita akan terbentuk dengan sendirinya. (Woodrow Wilson)
3. Manusia merasa kesepian karena mereka membangun tembok dan bukannya jembatan. (Tidak dikenal)
4. Arti matahari bagi bunga adalah arti senyuman bagi manusia. (Tidak dikenal)
5. Ada sebuah ketentuan takdir yang membuat kita bersaudara : Tidak ada sesuatu pun yang bergerak sendirian : Segala sesuatu yang kita kirimkan ke dalam kehidupan orang lain akan kembali ke dalam kehidupan kita. (Edwin Markham)
6. Seseorang yang sukses adalah orang yang menerima banyak hal dari orang lain, biasanya lebih banyak dibandingkan dengan apa yang ia berikan kepada orang lain. Nilai seseorang seharusnya dilihat dari apa yang ia berikan, dan bukan dari apa yang ia terima. (Albert Einstein)
7. Seharusnya kita bersikap terhadap musuh kita, seakan-akan suatu hari nanti ia akan menjadi teman kita. (Kardinal Newman)
8. Salah satu hadiah indah dari kehidupan adalah tidak ada seorang pun yang bisa dengan tulus berupaya menolong orang lain tanpa menolong dirinya sendiri. (Charles Dudley Warner)
9. Bagian terbaik dari kehidupan seorang manusia yang baik adalah amalnya yang kecil, tak bernama, tak diingat, yang bersumber dari rasa kebaikan dan kasih sayang. (William Wordswarth)
10. Aku berharap untuk melewati kehidupan ini sekali saja. Oleh karena itu, setiap kebaikan yang bisa kulakukan, atau setiap kemurahan yang bisa kutunjukkan kepada makhluk hidup lain, biarlah kulakukan sekarang juga. Jangan biarkan aku menunda atau melupakannya karena aku tidak akan pernah melewati jalan ini lagi. (Ralph Waldo Emerson)
11. Walau apa pun yang terjadi, aku masih meyakini bahwa semua orang pada dasarnya berhati baik. (Anne Frank)
12. Cara kita berpikir akan menentukan cara kita bertindak. Selanjutnya, cara kita bertindak akan menentukan reaksi orang lain terhadap kita. (Anonim)
13. Seseorang yang memulai sesuatu telah melakukan setengah dari upaya itu sendiri (Horace)
14. Satu-satunya cara untuk melalui sesuatu adalah dengan menjalaninya (Robert Frost)
15. Sampai seseorang memiliki komitmen, selalu akan ada keraguan, kemungkinan untuk mundur, ketidakefektifan. Ketika seseorang sudah berkomitmen kepada dirinya sendiri, takdir baik akan mengikutinya. Berbagai hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya akan muncul dengan sendirinya untuk membantu. Berbagai peristiwa akan muncul dari keputusan yang dibuat untuk mendukung keberuntungan orang tersebut dalam bentuk aneka kebetulan, pertemuan dan bantuan materi yang tak terduga. Hal-hal yang terimpikan sebelumnya, akan muncul ke hadapannya begitu saja (Goethe)
16. Dunia adalah gerbang, kesempatan, jalinan ketegangan yang menunggu untuk ditembus (Ralph Wado Emerson)
17. Rebutlah saat ini. Apa pun yang bisa Anda lakukan atau Anda impikan … mulailah! Keberanian mengandung kejeniusan, kekuatan dan keajaiban. Lakukan saja dan otak Anda akan mulai berputar. Mulailah dan pekerjaan itu akan selesai. (Goethe)
18. Tuhan memberi pekerjaan bukan untuk membebani manusia, melainkan sebagai anugerah baginya. Pekerjaan berguna yang dilakukan dengan sukarela, gembira dan efektif, selalu merupakan ungkapan terbaik jiwa manusia (Walter R. Courtenay)
19. Setiap panggilan hidup adalah luhur bila benar-benar ditekuni. (Oliver Wendell Holmes, Jr)
20. Seseorang seharusnya dinilai bukan dari sikapnya pada saat-saat yang nyaman dan menyenangkan, tapi saat ia menghadapi tantangan dan hal-hal yang tidak menyakitkan. (Martin Luther King, Jr)
21. Dari semua hal yang ada pada kiri kita, ekspresi kitalah yang terpenting (Tidak dikenal)
22. Dunia ibarat cermin. Selalu memantulkan apa yang kita lakukan. Dan bila kita tersenyum, dunia akan tersenyum kembali kepada kita. (Tidak dikenal)
23. Apa yang kita lakukan mencerminkan keseluruhan diri kita. (David Cowan)
24. Kita menilai diri sendiri dari niat kita, dan menilai orang lain dari tindakan mereka. (Dwight Morrow)
25. Walaupun seandainya kita tahu bahwa kita belum memberi seratus persen komitmen atau benar-benar efektif dalam setiap aspek kehidupan kita, kita harus bangga dengan usaha kita yang terbaik. Tidak perlu menghakimi diri sendiri. Dengan begitu, kita bisa menikmati langkah, setiap kemenangan, setiap keraguan yang menghilang, setiap pemikiran dan kearifan baru di dalam diri kita, dengan penuh rasa kemenangan. Di antara seluruh makhluk di bumi ini, hanya manusia yang bisa mengubah garis hidupnya sendiri. Hanya manusia yang bisa membangun takdirnya sendiri. Penemuan terbesar dalam generasi kita adalah bahwa manusia dapat mengubah sisi luar kehidupannya dengan mengubah cara berpikir dan bersikap di dalam dirinya. (William James)
26. Jika sesuatu tampak sulit bagi ktia, jangan menganggap orang lain tidak mampu melakukannya. Sebaliknya, jika sesuatu dapat dilakukan oleh orang lain, yakinkah bahwa kita juga mampu melakukannya. (Marcus Aurelius Antoninus)
27. Apapun yang kita yakini sebagai kebenaran, mungkin memang benar atau menjadi benar dalam benak kita. (John C. Lily)
28. Hal terburuk yang bisa menimpa manusia adalah jika ia berpikir buruk tentang dirinya sendiri. (Goethe)
29. Bayangkan kau mendapatkan kebajikan, walaupun kau tidak mendapatkannya. (William Shakespeare)
30. Aku meyakini bahwa setiap hak disertai tanggung jawab; Setiap kesempatan disertai kewajiban; dan kepemilikan disertai tugas. (John D. Rockefeller, Jr.)
31. Manusia merasa terganggu bukan oleh hal lain, melainkan oleh cara pandangnya akan hal-hal tersebut. (Stoic Epictetus)
32. Pengaruh seorang guru tak terbatas. Ia tidak akan pernah tahu kapan pengaruhnya akan berhenti. (Henry Adams)
33. Mengajar adalah belajar untuk kedua kalinya (Joseph Joubert)
34. Dengan belajar, kita akan mengajar; dengan mengajar kita akan belajar. (Peribahasa Latin)
35. Membuat anak-anakmu bersikap jujur adalah awal pendidikan. (John Ruskin)
36. Hasil yang paling berharga dari semua jenis pendidikan adalah kemampuan untuk membuat diri kita melakukan sesuatu yang harus kita lakukan, pada saat hal itu harus dilakukan, baik kita menyukainya maupun tidak. Ini adalah pelajaran pertama yang harus dipelajari, dan semua apa pun seseorang mulai belajar, pelajaran ini mungkin pelajaran terakhir yang sungguh-sungguh dapat ia kuasai. (Thomas Huxley)
37. Pendidikan bukanlah ibara mengisi sebuah ember, melainkan menyalakan sebuah api. (William Butler Yeats)
38. Kehidupan ibarat melukis sebuah gambar, bukan melakukan penjumlahan. (Oliver Wendell Holmes, Jr.)
39. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. (Albert Einstein)
40. Dalam arti yang sebenarnya dan lebih luas, mendidik seorang anak adalah pekerjaan yang lebih hebat dibandingkan dengan memimpin sebuah negara. (William Ellery Channing)
41. Hal-hal yang diajarkan di sekolah bukanlah pendidikan, melainkan sarana untuk mendidik. (Ralph Wado Emerson)
42. Seseorang yang tidak pernah membaca buku yang baik, tidak memiliki keunggulan dibandingkan orang yang tidak bisa membaca. (Mark Twan)
43. Jika Anda berpendapat pendidikan itu mahal, coba bandingkan dengan harga sebuah kebodohan. (Derek Bok)
44. Jika aku memaksa seorang anak melihat dunia dari jalur sempit sejarah dan sudut pandangku saja, aku telah kehilangan kesempatan untuk menjadi guru sejati. (Bob Samples)
45. Untuk menjaga rasa ingin tahu akan semangat bermimpi seorang anak tanpa kepercayaan akan peri-peri dan sebangsanya, maka ia memerlukan bimbingan – paling sedikit – dari satu orang dewasa yang bisa berbagi dengannya untuk menemukan keindahan, semangat dan misteri dunia yang kita tinggali ini. (Rachel Carson)
46. Anak-anak kita lebih membutuhkan panutan dibandingkan dengan kecaman. (Joseph Joubert)
47. Anak-anak tidak pernah bisa menjadi pendengar yang baik atas nasihat orangtunya, tapi mereka tidak pernah gagal meniru. (Eleanor Forjean)
48. Anak-anak membutuhkan kasih sayang, terutama saat mereka tidak pantas menerimanya. (Harold S. Hulbert)
49. Setiap anak mengenakan tanda “Aku ingin didahulukan SAAT INI JUGA”. Banyak masalah kenakalan anak muncul karena tidak ada seorang pun yang membaca tanda tersebut. (Don Pursuit)
50. Anak-anak tidak mengharapkan “dipahami”, tetapi dicintai oleh orang dewasa. Walaupun cinta itu mungkin diungkapkan dengan kaku atau tegas. Kedekatan tidak pernah ada antara dua generasi, yang ada hanyalah kepercayaan. (Carl Zucker)
51. Hanya ada dua warisan abadi yang bisa kita wariskan kepada anak-anak kita. Salah satunya adalah akar, dan yang lainnya adalah sayap. (Hodding Carter)
52. Seorang guru tidak memberikan kearifannya, tetapi kepercayaan dan kasih sayangnya. (Kahlil Gibran)
53. Saat kita menyaksikan citra diri seorang anak mulai berkembang, maka kita akan mulai melihat kemajuan dalam pencapaian-pencapaiannya. Namun, yang lebih penting lagi, kita akan melihat seorang anak yang mulai lebih menikmati hidup. (Wayne Dyer)

RUBRIK BK

KASUS: Tidak Mau Sekolah Kalau Tidak Dibelikan Sepeda Motor

Anak bernama Y seorang laki-laki berumur 17 tahun kelas 1 SMK di salah satu daerah Kutoarjo. Anak ini baru masuk kelas 1 dikarenakan menunggak di kelas SMK lain. Hingga pada akhirnya dia masuk di SMK daerah Kutoarjo. Masalahnya 3 hari tanpa keterangan tidak masuk sekolah, ketika dikunjungi oleh salah satu guru BP, anak tersebut tidak mau sekolah jika tidak dibelikan sepeda motor. Padahal di keluarganya tergolong keluarga yang kurang cukup ekonominya, orang tua bekerja sebagai petani. Dalam hal itu otomatis orang tua tidak bisa memenuhi permintaan si anak. Dalam kasus tersebut, berikut uraian penjelasan dalam mengatasinya.

Menurut Karen Horney seorang ahli psikologi yang mengungkapkan tiga konsep tentang diri seseorang yaitu:
1. Diri sebenarnya (Actualself) adalah seseorang dengan sebagian pengalaman hidupnya.
2. Diri nyata (Realself) ialah gaya atau prinsip di dalam yang utama dan khas setiap orangnya.
3. Yang diidamkan (Idealizedself)

Memahami konsep yang dikemukakan Horney bahwa sesungguhnya sikap seseorang dibentuk dari lingkungannya, keinginan ideal dan sifat yang khas dari manusia itu sendiri. sehingga tidak heran jika sikap anak tersebut melakukan hal itu.

Permasalahannya adalah bukan dari sikap anak melakukan hal tersebut namun bagaimana anak mengatasi permasalahannya dengan bijaksana atau lebih bersikap positif dan membangun. Menurut guru BP tersebut, ada satu faktor yang dapat orang tua benahi dari ketiga konsep yang dikemukakan Horney yaitu mengubah iklim dalam lingkungan anak. Sebab bukan tidak mungkin sikap anak yang selama ini timbul bukan karena kemauan mereka sendiri melainkan pada hubungan antara orang tua dan anak yang keliru dan selanjutnya diteruskan, atau karena konflik emosional dan kecemasan pada anak. Hal ini akan mengembangkan sikap tunduk, agresif atau menjauhkan diri dari orang tuanya.

Dalam keluarga menjaga keharmonisan adalah sangat penting. Dan setiap anggota keluarga memiliki peran yang besar dalam membentuk pribadi yang utuh. Setiap anggota keluarga memahami benar fungsi mereka. Misalkan ayah sebagai pemimpin namun bukan pemegang keputusan mutlak, seorang ibu pembawa kelembutan namun bukan sebagai orang yang selalu terkalahkan oleh kekuasaan, atau bahkan seorang anak yang terbentuk menjadi anak yang tertindas. Jelas sikap-sikap lingkungan seperti ini tidak akan membentuk manusia yang berpikir positif.

Sehingga untuk memperbaiki keadaan yang terjadi, maka cobalah untuk memulai bersikap bijaksana diawali oleh orang tua. Kemudian berusahalah menyelesaikan masalah di dalam rumah hingga selesai. Bila terasa sulit tentu hal ini juga akan dirasakan anak, namun sedikit demi sedikit akan mudah dimengerti anak sebab usia mereka sudah cukup dewasa. Dan perlu diingat bukan saja kepada anak melainkan kepada seluruh anggota keluarga. Percayalah bahwa keberhasilan terhadap keluarga karena selalu didukung oleh anggota keluarga itu sendiri.


SUMBER BACAAN

Tabloid harian Cempaka Edisi 18/XVII?3-9 Agustus 2006
http://www.masbied.com

MAKALAH HUBUNGAN ANTARA MANUSIA, AGAMA DAN KEBUDAYAAN

HUBUNGAN ANTARA MANUSIA, AGAMA DAN BUDAYA

A. LATAR BELAKANG
Ada yang hilang dari khazanah kehidupan bermasyarakat kita, sekalipun dalam lingkup terkecil, seperti keluarga. Sebuah kearifan yang semestinya berakar dan tercermin melalui sikap, moral dan akhlak. Kearifan itu terbentuk dari pengenalan, pemahaman, pengalaman dan pengamalan nilai-nilai agama dan budaya dalam wujud etika hidup. Agama merupakan regulasi ilahiyah yang meluruskan jalan hidup seorang insan. Budaya menggambarkan keharmonisan pikir dan cara kita menjalani kehidupan. Memang tak selalu sejalan, tetapi bisa saling melengkapi dalam cerita hidup insani. Ketika salah satu tidak teraplikasi, timbullah ketimpangan yang bisa mempengaruhi makna dan cara hidup seseorang. Berikut penjelasan hubungan antara manusia, agama dan budaya:
1. Hubungan Antara Manusia
Selain manusia sebagai makluk individu, manusia juga merupakan makhluk bersosial dan alasan kedua itulah kenapa manusia saling berhubungan satu sama lain. Dalam konteks ini tanpa bantuan manusia lain takkan ada yang namanya bermasyarakat, mendirikan Negara, mendirikan Propinsi atau Kota.
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk: organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
2. Hubungan Manusia dengan Agama
Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut buat pertama kali ditegaskan dalam ajaran Islam. Yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitrah manusia sebelumnya. Manusia belum mengenal kenyataaan ini. Baru masa ini, muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya dalam keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangnya perlunya manusia pada agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang pukulan dengan fitrahnya itu, dalam konteks ini minsalnya membacakan yang berbunyi.
Artinya : “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dngan fitrah itu”. (QS.Al-Rum : 30).
Adanya potensi fitrah agama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis melalui istilah Ihsan yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukan manusia. Mengacu kepada informasi yang diberikan Al-Qur’an, Musa Asy’ari sampai pada suatu kesimpulan, bahwa manusia Ihsan adalah manusia yang menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya.
Melalui uraian tersebut diatas dapat kita simpulkan bahwa latar belakang perlunya manusia pada agama adalah karena dalam diri manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi beragama ini memerlukan pembinaan, pengarahan, dan seterusnya dengan mengenal agama kepadanya.
3. Hubungan Manusia dengan Kebudayaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kebudayaan diartikan sebagi hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan bearti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptaka sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Semantar itu sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa: “kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi diunsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagi anggota masyarakat.” Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.
Dengan demikian kebudayaan adalah daya cipta manusia dengan mengguanakan dan mengarahkan segenap potensi bati yang dimilikinya. Didalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat dan sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya dengan demikian, kebudayaan tampil sebagai penata yang secara terus menerus dipelihara olehpara pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.
Misalkan kita jumpai kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat dan sebagainya. Dalam produk kebudayaan tersebut, unsur agama ikut berintegrasi. Pakaian model jilbab, kebaya atau lainnya dapat dijumpai dalam pengamalan agama. Sebaliknya. Tanpa adanya unsur budaya, maka agama akan sulit dilihat, sosoknya secara jelas. Di DKI Jakarta misalnya, kita jumpai kaum prianya mengguankan baju ala cina. Di situ terlihat produk budaya yang berbeda yang dipengaruhi oleh pemahaman keagamaannya.

B. FAKTOR-FAKTOR
Faktor-faktor manusia memerlukan agama dapat dijelaskan dalam berbagai pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologi dalam pengetahuan keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk porma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk norma atau simbol-simbol tersebut mengklaim dirinya sebagi yang paling benar sedangkan yang lain sebagi salah. Aliran teologi yang yakin dan fanatik bahwa pemahamannyalah yang paling benar sedangkan pemahaman yang lain salah. Sehingga memandang pemahaman yang lain itu keliru. Sesat, kafir, murtad dan sebagainya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat, kafir dan itupun menuduh kepada lawannya sebagi yang sesat dan kafir dalam keadaan demikian, maka terjadilah proses saling mengkairkan. Salah menyalah dan seterusnya.
2. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama denganmelihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembangdalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak dekat dan akrab dengan masalah-masalah yang dipahami manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikannya jawaban. Dengan kata lain bahwa upaya yang digunakan dalam disiplin ilmu antrapologi dalam melihat sesuatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.
Pendekatan anteropologis seperti itu diperlukan adanya, sebab banyak berbagai hal yang dibicarakan agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam Al-Qur’an Al-Karim, sebagai sumber utama ajaran islam minsalnya kita memporoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh dimana kira-kira Gua itu, dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang menakjubkan itu, ataukah hal yang demikian merupakan kisah fiktif. Trentu masih banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan bantuan ahli geografi dan arkeologi.
3. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama didalam masyarakat dan menyelidiki-menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya dan sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat sendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.
Selanjutnya sosilogi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara profesiaonal dan tepat apabila menggunakan jasa dari bantuan sosiologi. Dalam agama islam dapat dijumpai peritiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu dapat menjadi penguasa dimesir. Mengapa dalam melaksana tugasnya Nabi Musa harus dibantu oleh Nabi Harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut dapat duajwab dan sekali gus dapat ditemukan hikmahnya dengan batuan ilmu sosial. Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami maksudnya. Disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami agama.
4. Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Fhilo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu, dan hikmah, selain itu filsafat dapat pula diartikan mencari hikmah sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta usaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia poewadarminta mengartikat filsafat sebagai pengetahuandan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala hal yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti “adanya” sesuatu. Pengertian filsafat yang umunya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazaiba. Menurutnya filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yann ada.
Dari defenisi tersebut dapat diketahui bahwa filsafat fada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikamah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek pormanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdafat dibalik yang bersifat lahiriah. Sebagai contoh kita jumpai berbagai merek pulpen dengan kualitas dan harganya berlain-lainan namuninti semua pulpen itu adalah sebagai alat tulis. Ketika disebut alat tulis maka tercangkuplah semua nama dan jenis pulpen.

C. UNSUR, WUJUD DAN KOMPONEN BUDAYA
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Menurut Melville J. Herskivits menyebutkan kebudayaan memiliki empat unsur pokok yaitu: alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, kekuasaan politik.
Wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas dan artefak.
Berdasarkan wujudnya, kebudayaan dapat digolongkan dua komponen utama: kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata dan konkret seperti barang-barang. Kebudayaan nonmaterial, adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi misalnya dongeng, cerita rakyat.

D. MASALAH BUDAYA
1. Kurangnya Pelestarian Budaya Daerah
Kurangnya pelestarian budaya ini sudah sangat mengecewakan. Pasalnya pemerintah kurang memperhatikan secara penuh peninggalan-peninggalan budaya daerah saat ini serta tidak terawatnya situs-situs budaya yan g bernilai dan bersejarah. Contohnya Keraton Kaibon dan Istana Surosowan yang berada di Serang, Banten.
2. Westernisasi Tapi Tidak Modernisasi
Westernisasi yaitu orang yang berkiblat pada kehidupan barat(kebarat-baratan). Sedangkan Modernisasi yaitu orang yang berpikiran maju (Modern). Letak keburukannya yaitu beberapa sebagian besa orang berlagak sok kebara-baratan tetapi pemikirannya bisa dibilang ”Wong Ndeso” dan tidak menunjukan intelektualitas dan budaya ketimuran kita.

E. HAMBATAN BUDAYA
1. Sarana dan Prasarana
Setengah dari hambatan yang ada yaitu karena minimnya sarana dan prasarana yang ada. Tanpa hal tersebut akan sulit melestarikan budaya kita.


2. Minat Yang Kurang
Setengah hambatan budaya yaitu minat yang kurang dari masyarakatnya sendiri. Kurangnya pengembangan program cinta tanah air mengakibatkan kurangnya minat untuk melestarikan budaya bangsa yang ada.

F. KESIMPULAN
Manusia merupakan makhluk individu dan sebagai makhluk social. Sebagai makhluk social dari sifat harafiahnya manusia mempunyai kebutuhan menganut agama, dan adanya system norma dan nilai-nilai yang dibuat sekelompok makhluk (masyarakat) terbentuklah budaya. Dimana masyarakat termasuk salah satu unsure kebudayaan. Tanpa masyarakat kebudayaan tidak akan terwujud.

G. SARAN
1. Dalam bermasyarakat hendaknya saling rukun, menjaga kebudayaan yang ada dan antara manusia beragama tetap terjalin keharmonisannya walau pun Negara kita terkenal berbeda suku, ras, dan budaya.
2. Menjaga dan membudayakan adalah hal yang sulit untuk dilakukan karena di sana membutuhkan sekelompok manusia yang satu tujuan dan di dalamnya terdapat tanggung jawab penuh.
3. Hendaknya sebagai masyarakat kita menyeleksi terlebih dahulu budaya yang masuk ke Indonesia agar tidak berpengaruh buruk bagi kita dan pudarnya norma dan budaya ketimuran kita.

H. SUMBER BACAAN
http://sarjoni.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/budaya
http://yudhim.blogspot.com

buku-buku terbitan Al-Balagh

Dapatkan buku-buku terbitan Al-Balagh, berikut datar kitab-kitab:

No/Nama Kitab/Price

1. Assorful Wadleh Rp 5.500,00
2. Asrorussolah Tarjamah Rp 7.500,00
3. Ayyuhal Walad Rp 6.000,00
4. Arbain Nawawi Tarjamah Rp 4.000,00
5. Al Arba’iniyah Tarjamah Rp 7.000,00
6. Aqoidalussunah Tarjamah Rp 2.500,00
7. Attashilutturoqot Tarjamah Rp 7.500,00
8. Al Ghoyah Wattaqrib Tarjamah Rp 7.500,00
9. Attadkirotul Haniyah (Khutbah) Rp 10.500,00
10. Al Istighosah Rp 6.500,00
11. Al Umdah Tarjamah Rp 4.500,00
12. Aurodul Balighoh (Wirid Jawa) Rp 10.500,00
13. Al Imrithi Indonesia Rp 8.500,00
14. Al Imrithi Jawa Rp 6.000,00
15. Asma’ul Husna Indonesia Rp 3.000,00
16. Abu Nawas Jawa Rp 2.500,00
17. Alfiyah Jawa (Misbahul Khawalik) Rp 21.000,00
18. Alfiyah Indonesia (Tanwirul Khawalik) Rp 30.000,00
19. Aqidatul Awwam Rp 2.000,00
20. Bidayatul Hidayah Tarjamah Kecil Rp 10.500,00
21. Bidayatul Hidayah Tarjamah Besar Rp 8.000,00
22. Bid’ah (Sukimin & Sukirman) Rp 2.500,00
23. Barjanji Kecil Rp 5.500,00
24. Barjanji Jawa Rp 5.000,00
25. Dalail Hvs Tarjamah Rp 19.000,00
26. Durrotul Bahiyyah Rp 17.000,00
27. Fathul Qorib Tarjamah Rp 17.500,00
28. Fathul Majid Tarjamah Rp 9.000,00
29. Hisbunnashor Rp 4.500,00
30. Hikam Saran Indonesia & Jawa Rp 24.000,00
31. Hidayatussibyan Rp 2.500,00
32. Ihya’ulumuddin Tarjamah 1,2,3,4,5,6 @Rp 4.500,00
33. Jawahirul Lama’ah Jawa Rp 17.500,00
34. Jurumiyyah Tarjamah Indonesia Rp 6.000,00
35. Jurumiyyah Tarjamah Jawa Rp 5.000,00
36. Jawahirul Kalamiyah Rp 9.500,00
37. Juz ‘Amma Rp 3.000,00
38. Kifayatul Akhyar Tarjamah Rp 17.500,00
39. Kasfudduja Rp 5.500,00
40. Khoridatul Bahiyyah Rp 2.500,00
41. Lamiyatul Athfal Rp 3.500,00
42. Lujainiddani Lafadz Rp 4.000,00
43. Lubabul Hadist Rp 9.000,00
44. Misbahuddawaji (Barjanji)Tarjamah Rp 5.000,00
45. Matan Safinah Tarjamah Rp 2.500,00
46. Masailul Janaiz Jawa Rp 4.500,00
47. Masailul Rijal Rp 17.500,00
48. Manasik Haji Hvs (Jawa) Rp 17.500,00
49. Manasik Haji Indonesia Rp 8.000,00
50. Manaqib Wali Songo Rp 17.500,00
51. Matan Zubad Rp 17.500,00
52. Masaill Barzakkiyah Jawa Rp 2.500,00
53. Maqsud Tarjamah Rp 4.500,00
54. Nurul Mubin (Falasantun) Rp 17.500,00
55. Qurrotul Uyun Indonesia Rp 9.000,00
56. Qurrotul Uyun Jawa Rp 17.500,00
57. Qoulul Jali Rp 4.500,00
58. Risalatul Salafiyah Jawa Rp 11.000,00
59. Rohmatul Manan Indonesia Rp 2.500,00
60. Shuhufum Musa Tarjamah Rp 5.500,00
61. Sulam Safinah Rp 3.500,00
62. Syi’ir Tanda Kiamat Jawa Rp 3.000,00
63. Syi’ir Tanda Kiamat Indonesia Rp 3.000,00
64. Shibghotullah Rp 4.000,00
65. Sulam Munajat Rp 17.500,00
66. Samailusyarifah Rp 13.500,00
67. Ta’limul Muta’alim Rp 6.500,00
68. Tajul Muslimin I Rp 23.500,00
69. Tajul Muslimin II Rp 19.500,00
70. Tajul Muslimin III Rp 22.500,00
71. Tajul Muslimin IV Rp 23.500,00
72. Uqudul Juman Juz I Tarjamah Rp 10.500,00
73. Uqudul Lujain Tarjamah Rp 4.000,00
74. Wirid Ampuh Rp 6.500,00

Cara Pemesanan melalui sms ke 085799711933 (by cahaya) dengan format sms sebagai berikut:
judul barang/no urut barang/daerah domisili.

Pembayaran melalui bank Muamalat Indonesia , belum termasuk ongkos kirim ke No Rekening a/n Cahaya Fitria Sari 5020003834
Penambahan ongkos kirim paket: Pulau Jawa + Rp 25.000, Luar Pulau Jawa + Rp 35.000

Bekerja sama dengan Majlis Ta’alif Wal Khototh Bagilan Tuban-Jawa Timur, Indonesia.
Office pusat: Komplek Ponpes Al-Balagh 135 Bagilan Tuban
Kode Pos 62364
Telp. 081 359 321 222

The message from admin:
Bukan penampilan buku dan harga yang membuahkan wawasanmu, namun isi atau makna dalam ilmu buku tersebutlah yang membuat ilmumu semakin bertambah. Bijaklah menyikapi sebuah peristiwa.

GERAKAN PEDULI ANAK BANGSA (GPAB)


Saat anda memutuskan untuk mengetahui lebih jauh tentang GERAKAN PEDULI ANAK BANGSA (GPAB) ini, kami ucapkan selamat! Selamat atas anda yang mempunyai hati nurani extra kritis tentang anak-anak Bangsa Indonesia kita tercinta. Anda termasuk seorang yang mempunyai empati dan sosialisasi yang tinggi saat ini. Oke, sebelum anda mengikuti dan menyetujui untuk bergabung dalam GPAB, coba renungkanlah tiap-tiap poin berikut.

1.      Diharapkan, anda untuk membaca tiap poin dengan teliti dengan membaca ulang dua kali. Renungkalah isi dan artinya selama satu menit penuh dan janganlah membaca halaman lain, sebelum kamu member jawaban yang jujur, tulus ikhlas dan terus terang.

2.       Dengan membaca poin baru ini, poin yang sebelumnya termasuk poin yang lampau, demikian pula lah dirimu bila memberikan jawaban yang tidak memuaskan, maka lampau lah pula suatu lembaran dalam hidupmu.

3.      Ada S A T U yang pada saat ini mendengarkan segala jawaban yang keluar dari isi hatimu………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. tetapi yang juga memperhatikan segala keputusanmu untuk memulai sesuatu yang baru.

4.      Makin tambah usia kita, makin cepatlah rasanya waktu berlalu. Dengan perkataan lain: Hidup ini tidak lama, dan segera akan lalu. Ya, mungkin esok hari sudah berakhir…………………………. Bahkan nanti malampun maut mungkin menjemput.

5.      Apakah aku telah menggunakan sebaik-baiknya hidupku yang dikaruniakan oleh TUHAN YANG MAHA ESA?

6.      Apakah telah ku sia-siakan hidupku ini tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat?

7.      Apakah aku telah mengerjakan hal-hal yang tidak berguna bagi sesame-ku?

8.      Apakah aku terlampau banyak mencari kesenangan diri, ataukah aku semata-mata mengejar harta, menacari muka dan kedudukan, tanpa berusaha member bantuan kepada orang lain?

9.      Siapakah yang pernah kutolong dalam hidupku? Masihkah ada orang yang dapat kutolong?

10.  Dalam hidupku, terhadap siapakah aku bertindak tidak adil; dan siapakah yang pernah kulukai perasaannya? Apakah yang dapat aku lakukan untuk memperbaikinya?

11.  Kita tidak menerima upah atau balas jasa atas bantuan yang kita berikan, dengan demikian justru kita membina diri sebagai pribadi yang mandiri. Kita tidak bekerja sebagai orang upahan, melainkan untuk TUHAN dan demi hati NURANI kita. Ini menjadikan kita manusia yang berpribadi.

12.  Bila kita bergabung kedalamnya, GERAKAN PEDULI ANAK BANGSA adalah suatu gerakan persaudaraan yang kritis. Kita akan mendapat kesempatan yang luas untuk melatih diri dan kritis. Kritis terhadap hal apa pun harus menjadi sikap hidup kita, sehingga kita senantiasa mencari peluang dalam setiap masalah yang timbul dan menjadikannya kita aktif(tidak berdiam diri) serta dapat menghargai waktu tiap detik yang kita gunakan.

13.  Apakah aku menjadi bagian dari GPAB itu hanya untuk bersenang-senang saja?
14. Jika anda punya empati yang tinggi, jika anda punya jawaban yang realistis tentang pertanyaan-pertanyaannya bergabunglah dan mantapkan untuk mengikutinya. pendaftaran hubungi PH admin . terima kasih atas kepedulian anda sebagai anak bangsa.

follow

Followers

My Blog List